“Saat saya mengambil ijazah SMP dengan ayah, kami langsung pergi ke kursus komputer agar saya bisa langsung bekerja, entah sebagai admin di pabrik atau toko,” ujarnya.
Tetapi, Angga tidak menyerah begitu saja. Diam-diam, ia pergi ke SMA yang diinginkannya dan mencoba mendaftar. Dengan memakai baju sehari-hari, Angga kemudian berganti baju sekolah untuk melakukan pendaftaran.
Setelah diterima, Angga memberitahu ayahnya dan memberi tahu bahwa ia harus membayar uang pangkal sebesar 1,7 juta. Meskipun harus meminjam uang ke sana ke mari untuk bisa sekolah, Angga bersyukur.
“Alhamdulillah, saya bisa. Itulah sebabnya saya bilang, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah SMA,” katanya tegas.
Hobi Menggambar Mengantarnya Masuk ITB
Meskipun selama di SMA Angga sering dipanggil guru BP untuk melunasi SPP, tekadnya tidak surut untuk terus mencari peluang. Hobinya membaca komik sejak SMP membuatnya fokus belajar menggambar.
Angga aktif mengikuti berbagai perlombaan menggambar untuk membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia serius dalam menempuh pendidikan. Hasilnya, Angga berhasil meraih 16 penghargaan menggambar selama SMA.
Untuk mendalami hobinya, Angga kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi di jurusan desain komunikasi visual setelah lulus. Setelah mencari tahu, Angga menemukan bahwa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di ITB adalah pilihannya.
“Awalnya, Angga merasa pesimis karena biaya kuliah di ITB yang sangat mahal. Namun, akhirnya dia mengetahui tentang beasiswa Bidikmisi dan mencoba mendaftar.


















